Untaian Kiky

Pages

Jadikan Panggilan Jiwamu Cerita Suksesmu

Hallo... 
Assalamualaikum..
 waaah lama banget ga nulis disini.. disana juga enggak sih ... hehe
setelah semester lima dilalui dengan cucuran keringat dan air mata (lebay) sekarang gue udah semester enam.. yeay enam.. yeay... artinya paling lama satu setengah tahun lagi udah wisudaan di GWW aamiin..

ohiya jadi setelah bulan Agustus lalu gue ikut IGTF atau IPB go to Field (yang ceritanya belum selesai-selesai di blog ini)


Pertengahan Januari lalu gue daftar program SUIJI (Six University Initiative Japan Indonesia)..

Nah Senin tanggal 14 Februari kemarin tahap wawancaranya.. sebelum itu gue udah siapin berkas-berkasnya yang harus dibawa saat wawancara. nih list-nya:
1. biodata diri
gue buat lagi cv sebagus dan sebisa yang gue mampu. dikarenakan harddisk notebook yang rusak dan semuanya data gue hilang (foto dr jaman SMP, SMA, foto keluarga, berkas, tugas kuliah, film sebanyak setengah tera, semua jurnal acuan yang udah didownload, video kenangan jaman SMA, video motivasi, video masak dst, dst, dst).. sedih banget tapi mau gimana lagi yaa ? abang dan mba yang di tempat servcenya juga udah nyerah...

yaudah lah lanjut lagi aja yaa.. gue nyari contoh cv yang menarik dan mudah dibuat.. jadilah seperti gambar di samping tapi sengaja diblur ya.


2. pas foto 3x4 2 lembar
nah ini juga karena persediaan cetakan foto formal habis dan ga ada soft copy-nya karena data yang hilang itu, jadilah dibantu pakai kamera temen di dinding kosan dan minta tolong abang-abang cetak foto untuk edit background jadi merah dan jadi deeeh

3. Fotokopi transkrip akademik 1 tahun terakhir
sekarang gue semester enam, artinya transkrip yang dibutuhkan semester 4 dan 5 . nah loh transkrip belum juga ada di TU padahal wawancaranya sore itu, dan jadinya pakai transkrip semester 3 dan 4

4. Essay Motivasi
sepertinya hampir semua program ataupun beasiswa butuh essay motivasi dan ini pertama kalinya gue buat essay motivasi dengan niat dan semangat hehe... bingung antara Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia, dan akhirnya bahasa Indonesia :) . banyak banget yang bantuin koreksi dan kasih masukan mengenai Essay motivasi ini.. temen-temen kontrakan Zizir dan Kak Samara, Arigatou.

5. Fotokopi sertifikat pengabdian masyarakat..
nah alhamdulillah dari kegiatan sebelumnya yaitu BCL dan IGTF udah pernah, dan bersertifikat jadi bisa dilampirkan..

6. Fotokopi KTM dan KTP
cukup masing-masing satu lembar saja

7. Fotokopi Nilai Toefl atau Nilai Bahasa Inggris saat TPB
nah ini ni, karena selama hidup belum pernah ikut tes toefl resmi jadi ga punya nilai toefl. untungnya ada transkrip tpb yang nilai bahasa inggrisnya bisa di highlight

Alhamdulillah setelah wawancara dan pengumuman yang ditunggu tak kunjung datang.. menciptakan gundah bareng-bareng Fathonah dan Dodi (kita sama-sama radius guardian pada MPKMB 52 tahun 2015) alhamdulillah kita LOLOS SUIJI 2017... 

 Termasuk salah satu dari 495 peminat Suiji 2017 yang menjadi 56 peserta wawancara dan menjadi 26 peserta Suiji 2017..

wisatadibogor.net
InsyaAllah menjadi pengalaman luar biasa selanjutnya.program dilaksanakan mulai Sabtu tanggal 24 Februari 2017, dan gue ditempatkan di desa sekitar kampus yaitu Situ Gede.  nah ini tampilan Situgede yang insyaAllah nanti sering dikunjungi karena cuma sekitar 400 meter dari rumah tinggal "Situgede Squad".

Sampai sini dulu ya ceritanya.. doakan kita semua sehat dan bahagia :)


Obrolan dalam Kereta Senen-Pekalongan (...1...)


Kereta baru bergerak sekitar 15 menit yang lalu. Di luar kereta pemandangan berupa perumahan padat dengan sedikit pohon begitu cepat terlewati. Berganti lahan kosong dengan pohon-pohon pisang dan berganti rumah kembali. Di sebelah kananku, nomor kursi 21 c seorang ibu sedang menyuapi anak kecil laki-laki berusia 5 tahun makan nasi. Memang jam di telepon genggamku menunjukan pukul dua belas lewat dua puluh, masih jam makan siang. Aku mengambil makanan ringan seharga dua ribuan (lebih dikenal dengan kukil atau kue kiloan) yang ku beli tadi malam. Kue belang hitam putih yang dinamai kuping gajah karena memang bentuknya menyerupai kuping gajah. Sulit membuka bungkusnya dengan tangan dan aku tak membawa gunting.
Bapak yang duduk di depanku dengan nomor kursi 21 b menawari bantuan untuk membukanya.
“Sini coba sama bapak” dan plastik tebal tersebut terbuka. Bapak tadi memberikannya padaku
“Terima kasih pak” kataku.
Ku tawari Bapak tadi, teman disampingku, dan anak kecil yang sejak tadi disuapi ibunya untuk mencoba jajanan itu. Mereka semua tak ada yang menolak.
Sepanjang lorong kereta, ada petugas yang mendorong rak besi berisi piring-piring berisi makanan dan menawari penumpang untuk membeli makanan yang diolah di dapur kereta tersebut. Ada juga petugas yang membawa tumpukan bantal dan menawari untuk menyewa bantalnya dan mengencangkan suaranya
 “Sewa bantal lima ribu rupiah Pak, Bu”.
 Bantal sangat cocok untuk penumpang yang berada dalam kereta ini dengan tujuan jauh. Tujuan akhir kereta ini adalah Kota Malang Jawa Timur. Jika pemberangkatan jam dua belas siang seperti ini setidaknya kereta ini akan sampai besok subuh. Untungnya untuk sampai Pekalongan hanya membutuhkan waktu lima jam.
Bapak berusia sekitar lima puluhan tahun yang duduk di depanku menghentikan petugas itu dan menyewa satu bantal, ia menawariku apa aku ingin menyewa juga. Ku perhatikan tumpukan bantal yang dibawa. Aku menggeleng dan mengatakan terima kasih karena sudah menawari.
Bapak berbaju putih dengan topi berwarna biru donker ini sudah memulai pembicaraan denganku semenjak kereta bergerak dari stasiun senen. Awalnya beliau bertanya apakah aku menaiki kereta ini secara rombongan karena melihat ku yang membuat pembicaraan dengan beberapa orang di gerbong dan saling bertukar makanan.
Ia juga bertanya dari manakah kami, sebuah organisasi atau hanya bertujuan untuk berlibur. Aku menjelaskan bahwa kami berasal dari satu kampus yang sama yaitu IPB, tetapi dengan jurusan yang berbeda. Lima belas orang dari kami adalah mahasiswa dan lima orang dokter hewan. Tujuan kami ke Kota Pekalongan. Kami memiliki sebuah tugas untuk mendatangi satu desa, mendata jumlah ternak dan menghitung berapa berat badan sapi dengan mengukur lingkar tubuh, dan panjang badan sapi. Dengan wajah bingung bapak tersebut bertanya apa itu IPB dan apa saja yang kami lakukan di IPB itu.
Aku dan teman disampingku saling berpandangan heran. Bapak ini menggunakan baju dengan saku bertuliskan KLH dan tas kecil yang berada dipangkuannya bertuliskan Kementerian Lingkungan Hidup. Aneh pikirku masa tidak tahu apa itu IPB dan apa saja yang kami lakukan. Kujawab bahwa IPB adalah kampus pertanian yang berada di Bogor.
 Temanku menjawab sambil tertawa “disana kami belajar Pak”.
 Aku pun ikut tertawa.
Bapak tadi bertanya lagi apakah di dekat Taman Kencana ada laboratorium untuk penelitian dokter hewan. Aku menggeleng, yang aku tahu taman kencana adalah salah satu tempat nongkrongnya warga bogor dan tidak ada lab disana. Apalagi tagline baru kota Bogor sebagai Kota Sejuta Taman menambah keyakinanku bahwa Taman Kencana hanya sebuah taman tanpa laboratorium penelitian bagi dokter hewan.
Bapak tadi dengan antusias bertanya lagi dimana kami berkuliah apakah kampus Dramaga atau Baranangsiang dan apakah kami tinggal di asrama.
Belum aku menjawab pertanyaan itu, temanku lebih cepat menjelaskan bahwa kampus Dramaga diperuntukkan untuk sarjana dan baranangsiang untuk diploma.
“Dramaga mah buat s1 Pak, kalo Baranangsiang buat DIII hehehe” kata temanku.
Aku melanjutkan “kita semester lima pak jadi udah ngekos dan ngontrak. Asrama mah udah selesai pas TPB”
TPB adalah tahap persiapan bersama. Selama tahun pertama masuk kuliah kami belajar semua mata pelajaran SMA. Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Matermatika, Ekonomi, Sosiologi, Fisika, Kimia, Biologi, Agama, dan lainnya. Setauku yang menerapkan sistem TPB ini adalah IPB dan ITB. Tujuannya agar kita mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan yang selanjutnya digunakan di departemen atau jurusan masing-masing. Untuk IPB, nama TPB sudah berganti menjadi PPKU atau Program Pembinanan Kompetensi Umum sejak tahun 2015.
Kereta terus berjalan dan sudah memasuki Jawa Barat. Stasiun Tambun Bekasi sudah terlewat sejak tadi. Pemandangan di luar lebih didominasi oleh sawah dan pohon-pohon.
Temanku tiba-tiba bertanya pada bapak tadi “Jangan-jangan bapak dulu kuliah di IPB ya?” dengan menyelidik.
Aku jadi fokus menunggu jawaban bapak tadi. Dan ikut menyelidik “iya ya pak?”
“bisa jadi” bapak tadi menjawab sambil sedikit terkekeh
Aku dan temanku tertawa
“bener kan daritadi nih bapaknya nanyanya begitu” kataku
Aku langsung meminta tangan bapak tadi untuk salaman. Diikuti temanku. Rasa takzim dengan seorang alumni yang kutemui dalam kereta ini seketika muncul.
Pembicaraan kami makin seru dan banyak yang kami bahas. Banyak juga nasihat yang kami terima dari seorang “kakak alumni” yang juga seuisia “ayah”.
Temanku menawari permen padaku dan bapak tadi. Sepertinya bapak itu tak tahu bahwa itu permen karet. Ia mengambilnya. Aku memakannya dan memainkannya menjadi seperti balon yang bisa ditiup.
Dengan mnjawab pertanyaan bapak tersebut aku bercerita bahwa rumahku dekat stasiun senen. Tepatnya di Kemayoran. Aku alumni SMA 1 Jakarta Budi Utomo. Dan ternyata kakaknya bapak itu adalah juga alumni SMA yang sama denganku. Kali ini ia akan mengunjungi kakaknya di Kota Malang.
Tak kalah rasa ingin tahu ku, aku juga bertanya mengapa bapak sendirian pergi ke Malang mengapa tidak mengajak anak dan istrinya. Bapak tadi bercerita panjang. Bercerita bahwa kehidupan rumah tangga tidak selamanya baik, ada enaknya ada gak enaknya. Kali ini keadaan ia dan istrinya sedang kurang baik dan ia memutuskna untuk pergi sejenak ke rumah kakaknya. Selain refresh pikiran ia juga bisa menjaga silaturahmi dengan keluarganya.
Aku bersyukur mendapat tambahan ilmu. Ilmu berumah tangga.
Bapak tadi menanyai jurusan kuliahku. Aku berkuliah di fakutas ekologi manusia. Fakultas yang diisi oleh tiga departemen yaitu Gizi Masyarakat (GM), Ilmu Keluarga Dan Konsumen (IKK) , dan Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat (SKPM).
“Ilmu Keluarga Dan Konsumen Pak. Dulunya bergabung dengan gizi bernama GMSK. Ya kan pak?. Nah semenjak 2005 dipisah menjadi dua dan membentuk satu fakultas baru. Ya FEMA ini”.
Memang Gizi masyarakat dan sumber daya keluarga dahulunya berada di sospol fakultas pertanian IPB, sehingga alumni IPB lebih mengenal GMSK daripada IKK.
Bapak juga asli Jakarta. Rumahnya di sekitar Halim Perdana Kusuma. Ia mempersilahkan kami untuk main ke rumahnya jika ada waktu.

Selanjutnya bapak menceritakan pengalamannya selama ia berkuliah. Ia terbiasa mengikuti aksi mahasiswa yang lebih dikenal masyarakat dengan demo. Ia mengaku pernah berjalan sepanjang jalan tol jagorawi karena menuntut kebijakan pemerintah waktu dulu. Ia juga bercerita banyak tentang kisah cinta selama kuliah, tradisi mahasiswa IPB jaman dulu dan mitos yang berkembang di kebun raya Bogor.
Kereta berhenti di stasiun Cikampek atau Purwakarta. Aku lupa. Yang aku tahu sekarang sudah pukul dua siang. Banyak penumpang kereta yang sudah terlelap dan mungkin bermimpi juga berharap ketika membuka mata sudah sampai pada tujaun masing-masing. Penumpang yang turun bergantian dengan penumpang baru. Memenuhi kursi-kursi yang masih kosong. Sekitar 10 menit kereta berhenti...

Bagian I : Cerita tentang Perjalanan

Perjalanan akan selalu manis. Akan bertemu masyarakat dan ilmu baru. Mengenal, merasa, dan berbagi. Sama seperti manisnya perjalananku pertama kali ke Negeri Batik, Pekalongan. Perjalanan ini begitu manis, aku menyukainya karena lebih tepatnya gratis. Gratis biaya perjalanan, makan, dan menginap.
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?” .

Aku secara sengaja mendaftarkan diri pada acara kampusku. Program dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat yang dinamai IPB goes to Field. Dimana pada dasarnya kegiatan ini berlangsung selama tiga minggu tetapi karena kami ini program tahap dua nantinya kami hanya selama lima hari akan ditempatkan di suatu desa dan melakukan banyak hal. IGTF ini tersebar di Jawa, Nusa Tenggara Barat dan juga Muara Enim Palembang. Awalnya aku sangat antusias mendaftarkan diri untuk ikut terbang ke Palembang, tetapi waktunya bersamaan dengan mengisi teater acara Gerakan Kebaikan Keluarga Indonesia.


Pendaftaran dan pengumuman peserta berlangsung kurang dari 24 jam. Aku menyerahkan berkas jam tiga sore dan pengumuman malam harinya. Reaksiku? Sungguh senang walaupun tidak tahu sama sekali apa tugasku disana. Kewajibanku setelahnya adalah mengikuti briefing esok siangnya. Dari lima belas daftar mahasiswa lolos yang aku baca, ternyata tiga orang telah ku kenal sebelumnya. Ade dari Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, aku mengenalnya ketika kita satu divisi dalam satu kepanitiaan penerimaan mahasiswa tahun lalu. Fiki Zeh dari Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, aku mengenalnya dari pertama kuliah, ia koordinator fakultas beasiswaku, dan teman dalam satu kepanitiaan juga bareng Ade. Dan Fitdri, dari Teknologi Mesin dan Biosistem, kami pernah satu UKM dan satu panggung teater. Dengan yang lainnya, aku buta. Aku tidak mengenal mereka.

Segala persiapan, pembagian kelompok, pemilihan ketua sekretaris dan bendahara sudah terlewati. Aku sebagai bendahara, Ade sebagai sekretaris, dan Fiki sebagai ketua. Ternyata kami akan mengunjungi masyarakat yang juga sebagai peternak. Di Pekalongan, tepatnya Desa Kaliombo banyak sekali masyarakat yang memiliki hewan ternak sehingga dibentuklah Sekolah Peternakan Rakyat. Tugas kami disana adalah melakukan pendataan jumlah sapi, perkiraan pengukuran berat badan sapi yang dapat diketahui dengan mengukur lingkar perut, panjang dan tinggi sapi. Sebenarnya aku takut. Tidak berani sama sekali. Bagaimana untuk mengukur sapi, memegang binatang saja aku takut. Tapi dengan proporsi jumlah peserta perempuan delapan dan laki-laki tujuh orang. Maka setiap kelompok pasti terdapat satu lelaki yang akan melakukan tugas itu. Aku lega.
Pembelian kayu, pita ukur, tiket kereta semuanya telah siap. Perjalanan dimulai dari Stasiun Senen. Dekat sekali dengan rumahku. Maka dari itu aku putuskan untuk berangkat dari rumah. Sedangkan yang lain dari Bogor. Semua perlengkapan termasuk baju, sepatu, almamater, topi lapang, celana olahraga, gantungan baju dan sebagainya telah padat dalam satu tas jinjing. Entah sejak kapan aku membiasakan diri membawa gantungan baju ketika pergi dengan waktu lumayan lama. Setidaknya sangat berguna untuk menggantung pakaian untuk acara formal, ataupun menggantung pakaian yang harus segera di cuci seperti pakaian dalam.

Jadwalnya kereta berangkat tepat pukul 12.05 WIB. Rombongan mahasiswa dari Bogor menggunakan APTB dan aku sekitar jam 9 berangkat dari rumah diantar ayahku. Ayahku sempat kesal karena kami tidak menemui teman-temanku di area stasiun yang bisa dijangkau kaki setiap sudutnya. Ternyata teman-temanku sedang mengisi perut di salah satu warteg belakang Gelanggang Olahraga Senen. Memang central Senen ini sangat strategis. Letaknya di pusat Jakarta, ada stasiun, terminal, pasar, toko grosir, mall (Atrium), Plaza Senen, Gelanggang Olahraga, Kolam renang, Bioskop, dan apalagi disampingnya ada pasar Poncol sebagai pusatnya barang bekas dari elektronik sampai pakaian. Lengkap kan sebagai pusat ekonomi di perkotaan dan sudah pasti macet, polusi dan debu juga ikut meramaikan central Senen ini.

Semua telah lengkap dan aku pamit kepada ayah. Kami menunggu kedatangan kereta, dan segera menuju peron. Setelah melewati pengecekan tiket dan kartu identitas sebanyak dua kali kami menunggu di tempat antrian penumpang. Ramai, penuh dan cerah sekali siang itu. Sekitar sepuluh menit kereta datang dan kami menuju tempat duduk. Kami terpisah-pisah. Tetapi untungnya sebelahku Ade. Tempat duduk berhadap-hadapan. Baru saja aku mengambil posisi duduk. Bapak berusia lanjut yang masih sangat bugar di depanku menitipkan tasnya. Ia mengatakan tidak kuat dinginnya udara kereta ini. Ia keluar gerbong dan akan naik ketika kereta akan bergerak. Bapak tadi penasaran dan bertanya apakah kami rombongan.


Darimana kami berasal dan kemana tujuan kami. Apa yang ingin kami lakukan dan banyak yang lainnya. Dengan pertanyaan menyelidik, dan ku dapati bahwa aku dan bapak tadi satu almamater. Ya kami satu kampus dengan perbedaan 38 angkatan. Aku angkatan 51 dan bapak tersebut angkatan 13. Usiaku 20 tahun dan usia beliau kurang lebih 58 tahun, seusia ayahku.


Tunggu Part II-nya yaaa...