Untaian Kiky

Pages

Obrolan dalam Kereta Senen-Pekalongan (...1...)


Kereta baru bergerak sekitar 15 menit yang lalu. Di luar kereta pemandangan berupa perumahan padat dengan sedikit pohon begitu cepat terlewati. Berganti lahan kosong dengan pohon-pohon pisang dan berganti rumah kembali. Di sebelah kananku, nomor kursi 21 c seorang ibu sedang menyuapi anak kecil laki-laki berusia 5 tahun makan nasi. Memang jam di telepon genggamku menunjukan pukul dua belas lewat dua puluh, masih jam makan siang. Aku mengambil makanan ringan seharga dua ribuan (lebih dikenal dengan kukil atau kue kiloan) yang ku beli tadi malam. Kue belang hitam putih yang dinamai kuping gajah karena memang bentuknya menyerupai kuping gajah. Sulit membuka bungkusnya dengan tangan dan aku tak membawa gunting.
Bapak yang duduk di depanku dengan nomor kursi 21 b menawari bantuan untuk membukanya.
“Sini coba sama bapak” dan plastik tebal tersebut terbuka. Bapak tadi memberikannya padaku
“Terima kasih pak” kataku.
Ku tawari Bapak tadi, teman disampingku, dan anak kecil yang sejak tadi disuapi ibunya untuk mencoba jajanan itu. Mereka semua tak ada yang menolak.
Sepanjang lorong kereta, ada petugas yang mendorong rak besi berisi piring-piring berisi makanan dan menawari penumpang untuk membeli makanan yang diolah di dapur kereta tersebut. Ada juga petugas yang membawa tumpukan bantal dan menawari untuk menyewa bantalnya dan mengencangkan suaranya
 “Sewa bantal lima ribu rupiah Pak, Bu”.
 Bantal sangat cocok untuk penumpang yang berada dalam kereta ini dengan tujuan jauh. Tujuan akhir kereta ini adalah Kota Malang Jawa Timur. Jika pemberangkatan jam dua belas siang seperti ini setidaknya kereta ini akan sampai besok subuh. Untungnya untuk sampai Pekalongan hanya membutuhkan waktu lima jam.
Bapak berusia sekitar lima puluhan tahun yang duduk di depanku menghentikan petugas itu dan menyewa satu bantal, ia menawariku apa aku ingin menyewa juga. Ku perhatikan tumpukan bantal yang dibawa. Aku menggeleng dan mengatakan terima kasih karena sudah menawari.
Bapak berbaju putih dengan topi berwarna biru donker ini sudah memulai pembicaraan denganku semenjak kereta bergerak dari stasiun senen. Awalnya beliau bertanya apakah aku menaiki kereta ini secara rombongan karena melihat ku yang membuat pembicaraan dengan beberapa orang di gerbong dan saling bertukar makanan.
Ia juga bertanya dari manakah kami, sebuah organisasi atau hanya bertujuan untuk berlibur. Aku menjelaskan bahwa kami berasal dari satu kampus yang sama yaitu IPB, tetapi dengan jurusan yang berbeda. Lima belas orang dari kami adalah mahasiswa dan lima orang dokter hewan. Tujuan kami ke Kota Pekalongan. Kami memiliki sebuah tugas untuk mendatangi satu desa, mendata jumlah ternak dan menghitung berapa berat badan sapi dengan mengukur lingkar tubuh, dan panjang badan sapi. Dengan wajah bingung bapak tersebut bertanya apa itu IPB dan apa saja yang kami lakukan di IPB itu.
Aku dan teman disampingku saling berpandangan heran. Bapak ini menggunakan baju dengan saku bertuliskan KLH dan tas kecil yang berada dipangkuannya bertuliskan Kementerian Lingkungan Hidup. Aneh pikirku masa tidak tahu apa itu IPB dan apa saja yang kami lakukan. Kujawab bahwa IPB adalah kampus pertanian yang berada di Bogor.
 Temanku menjawab sambil tertawa “disana kami belajar Pak”.
 Aku pun ikut tertawa.
Bapak tadi bertanya lagi apakah di dekat Taman Kencana ada laboratorium untuk penelitian dokter hewan. Aku menggeleng, yang aku tahu taman kencana adalah salah satu tempat nongkrongnya warga bogor dan tidak ada lab disana. Apalagi tagline baru kota Bogor sebagai Kota Sejuta Taman menambah keyakinanku bahwa Taman Kencana hanya sebuah taman tanpa laboratorium penelitian bagi dokter hewan.
Bapak tadi dengan antusias bertanya lagi dimana kami berkuliah apakah kampus Dramaga atau Baranangsiang dan apakah kami tinggal di asrama.
Belum aku menjawab pertanyaan itu, temanku lebih cepat menjelaskan bahwa kampus Dramaga diperuntukkan untuk sarjana dan baranangsiang untuk diploma.
“Dramaga mah buat s1 Pak, kalo Baranangsiang buat DIII hehehe” kata temanku.
Aku melanjutkan “kita semester lima pak jadi udah ngekos dan ngontrak. Asrama mah udah selesai pas TPB”
TPB adalah tahap persiapan bersama. Selama tahun pertama masuk kuliah kami belajar semua mata pelajaran SMA. Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, Matermatika, Ekonomi, Sosiologi, Fisika, Kimia, Biologi, Agama, dan lainnya. Setauku yang menerapkan sistem TPB ini adalah IPB dan ITB. Tujuannya agar kita mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan yang selanjutnya digunakan di departemen atau jurusan masing-masing. Untuk IPB, nama TPB sudah berganti menjadi PPKU atau Program Pembinanan Kompetensi Umum sejak tahun 2015.
Kereta terus berjalan dan sudah memasuki Jawa Barat. Stasiun Tambun Bekasi sudah terlewat sejak tadi. Pemandangan di luar lebih didominasi oleh sawah dan pohon-pohon.
Temanku tiba-tiba bertanya pada bapak tadi “Jangan-jangan bapak dulu kuliah di IPB ya?” dengan menyelidik.
Aku jadi fokus menunggu jawaban bapak tadi. Dan ikut menyelidik “iya ya pak?”
“bisa jadi” bapak tadi menjawab sambil sedikit terkekeh
Aku dan temanku tertawa
“bener kan daritadi nih bapaknya nanyanya begitu” kataku
Aku langsung meminta tangan bapak tadi untuk salaman. Diikuti temanku. Rasa takzim dengan seorang alumni yang kutemui dalam kereta ini seketika muncul.
Pembicaraan kami makin seru dan banyak yang kami bahas. Banyak juga nasihat yang kami terima dari seorang “kakak alumni” yang juga seuisia “ayah”.
Temanku menawari permen padaku dan bapak tadi. Sepertinya bapak itu tak tahu bahwa itu permen karet. Ia mengambilnya. Aku memakannya dan memainkannya menjadi seperti balon yang bisa ditiup.
Dengan mnjawab pertanyaan bapak tersebut aku bercerita bahwa rumahku dekat stasiun senen. Tepatnya di Kemayoran. Aku alumni SMA 1 Jakarta Budi Utomo. Dan ternyata kakaknya bapak itu adalah juga alumni SMA yang sama denganku. Kali ini ia akan mengunjungi kakaknya di Kota Malang.
Tak kalah rasa ingin tahu ku, aku juga bertanya mengapa bapak sendirian pergi ke Malang mengapa tidak mengajak anak dan istrinya. Bapak tadi bercerita panjang. Bercerita bahwa kehidupan rumah tangga tidak selamanya baik, ada enaknya ada gak enaknya. Kali ini keadaan ia dan istrinya sedang kurang baik dan ia memutuskna untuk pergi sejenak ke rumah kakaknya. Selain refresh pikiran ia juga bisa menjaga silaturahmi dengan keluarganya.
Aku bersyukur mendapat tambahan ilmu. Ilmu berumah tangga.
Bapak tadi menanyai jurusan kuliahku. Aku berkuliah di fakutas ekologi manusia. Fakultas yang diisi oleh tiga departemen yaitu Gizi Masyarakat (GM), Ilmu Keluarga Dan Konsumen (IKK) , dan Sains Komunikasi Dan Pengembangan Masyarakat (SKPM).
“Ilmu Keluarga Dan Konsumen Pak. Dulunya bergabung dengan gizi bernama GMSK. Ya kan pak?. Nah semenjak 2005 dipisah menjadi dua dan membentuk satu fakultas baru. Ya FEMA ini”.
Memang Gizi masyarakat dan sumber daya keluarga dahulunya berada di sospol fakultas pertanian IPB, sehingga alumni IPB lebih mengenal GMSK daripada IKK.
Bapak juga asli Jakarta. Rumahnya di sekitar Halim Perdana Kusuma. Ia mempersilahkan kami untuk main ke rumahnya jika ada waktu.

Selanjutnya bapak menceritakan pengalamannya selama ia berkuliah. Ia terbiasa mengikuti aksi mahasiswa yang lebih dikenal masyarakat dengan demo. Ia mengaku pernah berjalan sepanjang jalan tol jagorawi karena menuntut kebijakan pemerintah waktu dulu. Ia juga bercerita banyak tentang kisah cinta selama kuliah, tradisi mahasiswa IPB jaman dulu dan mitos yang berkembang di kebun raya Bogor.
Kereta berhenti di stasiun Cikampek atau Purwakarta. Aku lupa. Yang aku tahu sekarang sudah pukul dua siang. Banyak penumpang kereta yang sudah terlelap dan mungkin bermimpi juga berharap ketika membuka mata sudah sampai pada tujaun masing-masing. Penumpang yang turun bergantian dengan penumpang baru. Memenuhi kursi-kursi yang masih kosong. Sekitar 10 menit kereta berhenti...

Bagian I : Cerita tentang Perjalanan

Perjalanan akan selalu manis. Akan bertemu masyarakat dan ilmu baru. Mengenal, merasa, dan berbagi. Sama seperti manisnya perjalananku pertama kali ke Negeri Batik, Pekalongan. Perjalanan ini begitu manis, aku menyukainya karena lebih tepatnya gratis. Gratis biaya perjalanan, makan, dan menginap.
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?” .

Aku secara sengaja mendaftarkan diri pada acara kampusku. Program dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat yang dinamai IPB goes to Field. Dimana pada dasarnya kegiatan ini berlangsung selama tiga minggu tetapi karena kami ini program tahap dua nantinya kami hanya selama lima hari akan ditempatkan di suatu desa dan melakukan banyak hal. IGTF ini tersebar di Jawa, Nusa Tenggara Barat dan juga Muara Enim Palembang. Awalnya aku sangat antusias mendaftarkan diri untuk ikut terbang ke Palembang, tetapi waktunya bersamaan dengan mengisi teater acara Gerakan Kebaikan Keluarga Indonesia.


Pendaftaran dan pengumuman peserta berlangsung kurang dari 24 jam. Aku menyerahkan berkas jam tiga sore dan pengumuman malam harinya. Reaksiku? Sungguh senang walaupun tidak tahu sama sekali apa tugasku disana. Kewajibanku setelahnya adalah mengikuti briefing esok siangnya. Dari lima belas daftar mahasiswa lolos yang aku baca, ternyata tiga orang telah ku kenal sebelumnya. Ade dari Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, aku mengenalnya ketika kita satu divisi dalam satu kepanitiaan penerimaan mahasiswa tahun lalu. Fiki Zeh dari Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, aku mengenalnya dari pertama kuliah, ia koordinator fakultas beasiswaku, dan teman dalam satu kepanitiaan juga bareng Ade. Dan Fitdri, dari Teknologi Mesin dan Biosistem, kami pernah satu UKM dan satu panggung teater. Dengan yang lainnya, aku buta. Aku tidak mengenal mereka.

Segala persiapan, pembagian kelompok, pemilihan ketua sekretaris dan bendahara sudah terlewati. Aku sebagai bendahara, Ade sebagai sekretaris, dan Fiki sebagai ketua. Ternyata kami akan mengunjungi masyarakat yang juga sebagai peternak. Di Pekalongan, tepatnya Desa Kaliombo banyak sekali masyarakat yang memiliki hewan ternak sehingga dibentuklah Sekolah Peternakan Rakyat. Tugas kami disana adalah melakukan pendataan jumlah sapi, perkiraan pengukuran berat badan sapi yang dapat diketahui dengan mengukur lingkar perut, panjang dan tinggi sapi. Sebenarnya aku takut. Tidak berani sama sekali. Bagaimana untuk mengukur sapi, memegang binatang saja aku takut. Tapi dengan proporsi jumlah peserta perempuan delapan dan laki-laki tujuh orang. Maka setiap kelompok pasti terdapat satu lelaki yang akan melakukan tugas itu. Aku lega.
Pembelian kayu, pita ukur, tiket kereta semuanya telah siap. Perjalanan dimulai dari Stasiun Senen. Dekat sekali dengan rumahku. Maka dari itu aku putuskan untuk berangkat dari rumah. Sedangkan yang lain dari Bogor. Semua perlengkapan termasuk baju, sepatu, almamater, topi lapang, celana olahraga, gantungan baju dan sebagainya telah padat dalam satu tas jinjing. Entah sejak kapan aku membiasakan diri membawa gantungan baju ketika pergi dengan waktu lumayan lama. Setidaknya sangat berguna untuk menggantung pakaian untuk acara formal, ataupun menggantung pakaian yang harus segera di cuci seperti pakaian dalam.

Jadwalnya kereta berangkat tepat pukul 12.05 WIB. Rombongan mahasiswa dari Bogor menggunakan APTB dan aku sekitar jam 9 berangkat dari rumah diantar ayahku. Ayahku sempat kesal karena kami tidak menemui teman-temanku di area stasiun yang bisa dijangkau kaki setiap sudutnya. Ternyata teman-temanku sedang mengisi perut di salah satu warteg belakang Gelanggang Olahraga Senen. Memang central Senen ini sangat strategis. Letaknya di pusat Jakarta, ada stasiun, terminal, pasar, toko grosir, mall (Atrium), Plaza Senen, Gelanggang Olahraga, Kolam renang, Bioskop, dan apalagi disampingnya ada pasar Poncol sebagai pusatnya barang bekas dari elektronik sampai pakaian. Lengkap kan sebagai pusat ekonomi di perkotaan dan sudah pasti macet, polusi dan debu juga ikut meramaikan central Senen ini.

Semua telah lengkap dan aku pamit kepada ayah. Kami menunggu kedatangan kereta, dan segera menuju peron. Setelah melewati pengecekan tiket dan kartu identitas sebanyak dua kali kami menunggu di tempat antrian penumpang. Ramai, penuh dan cerah sekali siang itu. Sekitar sepuluh menit kereta datang dan kami menuju tempat duduk. Kami terpisah-pisah. Tetapi untungnya sebelahku Ade. Tempat duduk berhadap-hadapan. Baru saja aku mengambil posisi duduk. Bapak berusia lanjut yang masih sangat bugar di depanku menitipkan tasnya. Ia mengatakan tidak kuat dinginnya udara kereta ini. Ia keluar gerbong dan akan naik ketika kereta akan bergerak. Bapak tadi penasaran dan bertanya apakah kami rombongan.


Darimana kami berasal dan kemana tujuan kami. Apa yang ingin kami lakukan dan banyak yang lainnya. Dengan pertanyaan menyelidik, dan ku dapati bahwa aku dan bapak tadi satu almamater. Ya kami satu kampus dengan perbedaan 38 angkatan. Aku angkatan 51 dan bapak tersebut angkatan 13. Usiaku 20 tahun dan usia beliau kurang lebih 58 tahun, seusia ayahku.


Tunggu Part II-nya yaaa...


Terlalu memikirkan masa depan hingga lupa bahwa hidup di masa kini

Sudah sekitar sebulan ini Jamilah kepikiran gimana nanti kehidupannya taun depan. Sekarang Jamilah semester 5 artinya semester depan dia KKN ( Kuliah Kerja Nyata), bayar biaya kos, biaya mulai penelitian, dan semuanya ga jauh-jauh dari masalah duit. Nah KKN di kampus si Jamilah ini wajib musti kudu. Sebagai salah satu tujuan perguruan tinggi kan pengabdian masyarakat jadi ya harus. Bukan masalah mengabdinya, Jamilah sering tinggal sama warga di desa tapi karena duitnya. Ya duit. Dan dibawah ini percakapan Jamilah sama Mpok Romlah.
Mpok Romlah       : “Ngapain sih lu repot-repot mikirin yang masih jauh?”
Jamilah                 : “ laah ntar kan KKN bulan Juli tuh ya, pas banget sama bayar
kontrakan. Duit dari mane gue Mpok?”
Mpok Romlah       : (mulai mikir) “iya sih. Tp kan ada duit beasiswa elu tuh.. duit
bidikmisi”
Jamilah                 : “gini nih ya Mpok kita itung-itungan. Bayar kontrakan anggep
lah 2,5 juta. Mesti tuh segitulaaah. Jangan sampe kena yang lebih mahal. Kan itu juga tahunan. Belum bulanannya listrik, air, gas, kas, deuuh. Terus KKN itung-itung abis lah 2 juta.
Inget ga Mpok cerita gue waktu gue ke Pekalongan ada kakak2 yang KKN nah sehari kurang lebih buat makan sama biaya rumah tinggal per orang Rp. 25000 nah dikali 2 bulan jadi berapa tuh?”
Mpok Romlah       : “hmm sejuta lima ratus. Nah sejuta lima ratus kan tuh”
Jamilah                 : “ lah ongkos, lah program, biaya lain-lainnya?. Bidikmisi
sebulan 600 ribu. Dateng tiap 3 bulan yak. Gue pake buat sehari hari aja abis. Sokongan dana gue kan dari situ aja.”
Mpok Romlah       : ”hmm iya yaa. lu kan gak ditransfer sama orgtua. Gimana mau
ditransfer. pikir buat hidup masing-masing aja masih ribet. Gue
tau lu bukan orang yang mau nyusahin orang lain. Yang ngeusahain semuanya untuk mandiri.”
Jamilah                 :  “Nah itu dia. Tuh akhirnya lu ngerti Mpoook”
Mpok Romlah       : “ iye ye Mil dipikir-pikir ga semua yang dapet beasiswa
hidupnya selalu enak, kan yang dipikirin orang-orang beasiswa
tuh enak. Sekolah dibayarin. Dapet duit juga lagi. Tapi ga semua
yak. Ada yang bener-bener kayak elu ga ada lagi pendapatan      lain. Tapi banyak ah Mil, anak beasiswa yang hidupnya enak-
enak aja. Makannya selalu enak, kosannya lumayan mahal,
gayanya mantep, baju-bajunya juga. Hapenya apalagi.
Nongkrongnya waduh hits gitu deh. Salah sasaran kali yak tuh
beasiswa”
Jamilah                 : “ya gak semua Mpok. Ada yang beasiswa tuh bener-bener
suatu anugerah, keberuntungan bagi dia kan yak. Ada juga yang buat hedon malah. Yak namanya juga hidup Mpok. Laluin ajadah. Mikirinnya mah capek, apalagi jalaninnya. Hahaha “
Mpok Romlah    : (Ketawa ngakak)

Percakapan mereka Cuma sampai situ aja. Nah si Jamilah ini, anaknya suka lupaan. Termasuk lupa makan. Tapi anehnya badannya ga kurus-kurus. Satu hari pas kuliah pagi, dia ngerasa badannya sakit semua. Pusing, mual, kepalanya berat banget dan lain-lain laah. Pas diliat di tas duitnya tinggal selembar duit warna ungu. Dia keingetan belum makan sama sekali dari kemaren sore. Jadilah dia beli dagangan temennya ya semacem risol gitu yang dua sampe tiga gigitan juga udah ga berasa abisnya. Pas pulang kuliah dia lemes banget tapi ya gitu, duit sisa di tasnya dia beliin baso. Nah dia makan lah baso itu pas sampe kontrakan. Ga taunya badannya bukannya tambah seger karena abis makan baso. Malah jadi ga enak badan dan menggigil. Semua temen kontrakannya kuliah. Dia ga kuat buat ambil duit di atm centre panas-panasan. Apalagi beli makan ke warteg. Dia juga jomblo, jadi gaada yang bisa dikodein buat nemenin makan. Lengkap lah hidup Jamilah ini. Jadilah jiwa kreatifnya muncul. Ada segelas kacang ijo mentah yang dia rendem air dan dia masak bareng sama tepung beras, santen, garem, gula, dan air. Jadilah bubur sumsum kacang ijo katanya.
Setelah itu, si Jamilah disaranin temennya makan mie instan aja dulu. Nurut lah dia dan worth it laah buat isi perutnya. Nah lucunya ketika sore-sore si Jamilah minta tolong temennya buat beliin bubur dan obat warung. Temennya udah semangat banget buat beliin dan temu kangen karena udah lama gak ketemu. Percakapan lewat -akun media sosial berwarna hijau empat huruf- itu berlangsung.

Temen Jamilah      : “Nanti yaa, gue nunggu ujan reda gaada payung nih”
Jamilah                 : “oke siap. Ditunggu yaww”
Temen Jamilah      : “lu sakit apa si Mil, elaah . jangan-jangan lu tipus yak”
Jamilah                 : “kalo gue liat google sih cari-cari informasi gitu katanya”
Temen Jamilah      : “gue juga pernah sama kayak lu gitu ciri-cirinya. Fix keknya
typus”
Jamilah                 : “yah semoga aja enggak laah”
Tik tok tik tok tik tok. Detik jam terus bergulir dan hujan juga udah reda, ga disangka udah maghrib. Tapi temen si Jamilah ga dateng-dateng. Tiba-tiba....

Temen Jamilah      : “Miiilll, maapin ternyata gue gaada duit wkwkwkwkwwk”
Jamilah                 : (gubrak, mengheningkan cipta) “ yaaaah elaaah dari tadi napaa
ngomongnya, yaudah gapapa, thank you yaa” (HAHAHA) miris
Temen Jamilah      : “yaah maapin yaak hehehehe”
Jamilah                 : “iya oke gpp”

Akhirnya Jamilah hubungin temennya yang lain. Kebetulan temennya ini gak ada kendala buat ngebeliin bubur depan minimarket belakang kosan (waduh depan tapi belakang). Huhuhu makasih banyak temen Jamilah yang lain.
Aslinya hari itu Jamilah ada janji buat makan bareng temen-temennya (baca : temen jalan-jalan dan tugas negara ke Pekalongan) Gak disangka ternyata setelah isya Temen-temennya yang tadinya mau pada makan di tempat makan hits sekitar kampus itu malah ga jadi makan bareng. Sekitar 10 orang, orang-orang baik hati itu malah jenguk si Jamilah. Terharu lah si Jamilah. Ngobrol kesana kesini, hilang lah tuh panas demam, sakit kepala, meriangnya si Jamilah. Bener kata orang bahwa
“Bahagia dan Kesehatan itu Menular”
makanya besok-besok kalo sakit, temuin banyak orang biar menular sehatnya orang-orang, bukan sebaliknya hehehe.

Ternyata sakitnya berlangsung sampe empat hari. Yak pas pagi-pagi si Jamilah mau kuliah badannya menggigil kedinginan. Padahal udah setengah delapan. Dan kuliah jam delapan. Dia belum mandi. Belum siap-siap. Dan masih ngerepotin temennya buat nyelimutin dia. Tapi si Jamilah ini punya tekad buat tetep masuk. Jadilah jam tujuh empat lima dia bangun, gerakin tubuhnya, masak aer, daaan mandi. Yak mandi pas dia menggigil. Daripada orang-orang sekitarnya bakal nyium sesuatu kan dia tiga harian kagak mandi. Nah pas berangkat itu dia udahkelewatan lima menit. Duh telat ni telat pikirnya. Mana di kela spasti dingin karena ac baru dua biji yang maksimal banget dinginnya. Gak lupa dia bawa jaket. Sampe kelas udah sedikit lari-lari belum ada dosen ternyata. Alhamdulillah. Nah pulangnya ini si Jamilah ngelewatin tukang baso langganannya. Belilah baso Rp. 5000, karena duit dia pecahan terbesar yang merh itu, jadi gak ada kembalinya. Udah gitu tukang basonya membolehkan berhutang. Haduh. Semestinya jangan dilakukan yak abang. Jamilah berhutang saudara-saudara. Ke tukang baso. Yasudah lah.
Hari itu Jamilah kuliah dua kali. Sisanya jam abis dzuhur dan tempatnya itu jauh sekali. Di fakultas daerah belakang. Biasanya ia jalan kaki, naik bis, mobil listrik atau kemungkinan paling kecil adalah ngojek. Nah, selama dia sakit Jamilah Cuma bilang ke uwa (budhe)nya kalau ia sakit. Tapi gak sama sekali bilang ke orang tuanya. Satu alesannya kayak di percakapan sama Mpok Romlah diatas.
Gak disangka gak diduga Bapaknya Jamilah telepon. Diujung sana kedengeran suara ibunya jmilah yang udah nangis terisak-isak. Gimana Jamilah ga panik tambah sedih tambah pusing kan ya.
Bapak          : “Jamilah, kata uwa Jamilah sakit, gimana keadaannya. Ini ibu
kepikiran”
Jamilah        : (ambil napas, tahan napas, buang) “udah gak papa kok. Udah sehat
udah ke dokter”
Bapak          : “kata dokternya sakit apa?”
Jamilah        : (ambil napas, tahan napas, buang “radang”.
Bapak          : “iya ini ibu kepikiran”(terdengar suara ibu yang nangis)
Jamilah        : “iya udah gak papa kok” (matiin telepon) (nangis kejer)

Jamilah sama sekali gak mau bikin orang tuanya kepikiran. Ohiya buat yang belum tau, ibunya Jamilah udah hampir satu setengah tahun stroke. Menurut yang di baca oleh Jamilah dari situs online. Kalau orang stroke itu merasa dirinya tidak berguna lagi atau self esteem nya rendah, merasa kecewa dengan diri sendiri, dan lain sebagainya. Nah di titik ini Jamilah ngerti banget keadaan orangtuanya. Ketika anak sakit, pasti orangtua panik, khawatir, gelisah, cemas, dan semuanya yang mengarah pada rasa peduli tapi gak tersampaikan. Bayangkan bagaimana yang dirasakan orang tua Jamilah.
Jamilah ini anak perempuan, anak kedua, sejak pertama kuliah orangtuanya tidak lagi bekerja yang artinya orangtua tidak bisa memenuhi kebutuhan Jamilah. Tepat di tahun kedua Jamilah kuliah, Ibunya stroke, ayahnya sepenuh waktu mengurusi ibu Jamilah. Ayahnya Jamilah juga sudah tua. Jamilah masih punya adik SMP. Mau tidak mau, adiknya mengurus hidupnya sendiri, pakaiannya, tugas sekolahnya. Kakak Jamilah juga sudah tidak bekerja sebagai pegawai tetap. Sistem kerja jaman sekarang membuat setiap pekerjaan memiliki kontrak kerja. Jadi sekarang kakak Jamilah sebagai driver salah satu ojek online, dengan kendaraan yang masih dicicil. Terbayang kehidupan Jamilah sekarang? Terbayang bagaimana beban kedua orang tuanya? Maka dari itu alasan Jamilah berusaha sekuat mungkin agar gak bergantung dengan orang tuanya.
Pas berangkat kuliah dengan mata sembab dan muka yang pucat, Jamilah ga nemu bis, mobil listrik dan temennya sama sekali di halte. Mau ngecek hp, hapenya juga rusak. Baru bisa nyala kalo di cas. Mana gak ada duit empat ribu  buat naik ojek. Taunya di depan mukanya ada kakak alumni yang dia kenal. Lumayan beda 4 tahun. Dengan gerakan cepat kakak itu ngeluarin duit dan pinjemin buat si Jamilah naik ojek. Dari pada telat. Lagi-lagi Jamilah terharu, bahwa banyak orang baik disekitarnya. Sampai kelas dosennya udah ngajar dan dia hanya menunduk lesu. Duduk di samping temannya. Seketika kepala Jamilah dipenuhi ingatan telepon bapaknya, suara tangisan ibunya, dan kepalanya yang pusing kembali muncul. Jamilah nangis, temannya bergerak cepat mengambil tisu dan menyodorkan banyak pertanyaan. Jamilah hanya menggeleng menatakan tidak apa-apa. Jamilah selalu ingat bahwa 
“Selalu ada waktu untuk bercerita” 
dan itu juga yang Jamilah terapin ke dirinya. Kalau ada temannya yang sedih, senang, marah, dan ungkapan perasaan lainnya. Jamilah lebih suak menunggu waktu pas untuk bercerita. Tidak pernah meminta, tidak pernah memaksa.

Nah tapi sering banget si Jamilah lupa bahwa setiap manusia hidup sudah memiliki takdir masing-masing. Bahwa Jamilah sering lupa kalau dia hidup di masa saat ini. Bahwa saat ini malah saat yang paling penting untuk berusaha. Berusaha buat kehidupan masa depannya juga. Masalah duit KKN, kontrakan dan sebagainya, Jamilah harusnya percaya bahwa Tuhannya tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuannya. Dan ada quote yang seharusnya Jamilah jadiin acuan dalam hidup, yaitu :
“ if something is destined for you, never in million years it will be for somebody else”
Jamilah harus percaya bahwa apa yang ada di dirinya adalah sumberdaya berharga. Dirinya, waktunya, keluarganya, kemampuannya, teman-temannya, sekitarnya dan semuanya adalah sumberdaya berharga yang ada agar Jamilah bisa tetep “hidup”. Jamilah juga mesti sadar bahwa masih buanyak di sekitar dia yang jalan hidupnya lebih sulit. Temannya yang bayar kuliah sendiri, temannya yang orangtuanya telah pisah, temannya yang gak punya adik-kakak, temannya yang gak punya temen-temen lain sebaik temen si Jamilah. Ya intinya Jamilah harus bersyukur. Namanya Hidup belum tentu semuanya enak. Kalo ada yang gak enak, tambahin aja “msg” biar gurih. Apa sih ky, suka ga jelas. Hehe.

Semangat buat Jamilah, dan Jamilah lain di dunia nyata . : ) .


Waktu Luang Anak, Cara Memanfaatkannya, dan Pihak yang Berperan

Waktu luang untuk Eksplorasi Alam
Setiap manusia memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam. Manusia membagi waktu menjadi waktu kerja untuk mendapatkan sumberdaya lain, waktu domestik untuk mendapatkan kepuasan tinggal di dalam rumah, dan yang terakhir waku luang untuk beristirahat dan mengumpulkan energi untuk aktivitas selanjutnya. Begitupun anak-anak yang memiliki waktu produktif untuk bersekolah, waktu domestik untuk membantu kegiatan di rumah, dan menghabiskan banyak waktu luang.
Berdasarkan definisi teori waktu luang yaitu waktu luang sebagai aktivitas yaitu waktu yang berisikan berbagai macam kegiatan baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan serta menggunakan keterampilan secara objektif untuk meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat setelah melepaskan diri dari segala pekerjaan rutinnya, keluarga dan lingkungan sosial dan waktu luang sebagai relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri.

Waktu luang untuk Olahraga
Diungkapkan oleh Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yang melihat arti istilah waktu luang dari 3 dimensi, yaitu:
a. Dilihat dari dimensi waktu, waktu luang dilihat sebagai waktu yang tidak digunakan untuk bekerja mencari nafkah, melaksanakan kewajiban, dan mempertahankan hidup.
b. Dari segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat diisi dengan kegiatan pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka hati.
c. Dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang mengalami gangguan emosi, sebagai selingan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu. 
Waktu luang anak-anak yang tidak digunakan untuk kegiatan menambah pengetahuan, olahraga dan meningkatkan kemampuan diri adalah dengan kegiatan pasif. Proff Matt Sanders, seorang direktur Parenting and Family Support Centre di Queensland University mengatakan salah satu kegiatan pasif dalam mengisi waktu luang yaitu menonton televisi. 
Dalam artikel gaya hidup di laman republika.co.id, dari hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics yang melibatkan 1.550 orang tua yang memiliki anak berusia 17 tahun atau kurang membuktikan bahwa kebiasaan anak-anak menonton televisi sangat dipengaruhi orangtuanya.  
Ekskul Nasyid


Peneliti secara khusus bertanya kepada para remaja tentang berapa banyak waktu yang mereka habiskan menonton televisi.  Ternyata rata-rata, orang tua menghabiskan sekitar empat jam sehari di depan layar televisi. Dan mereka yang menonton TV lebih dari empat jam, anak-anak mereka juga menonton untuk waktu yang sama. Selain itu peneliti juga menyimpulkan bahwa satu jam yang orangtua habiskan untuk menonton TV menambah setengah jam waktu anak menonton TV.
Mengikuti Kajian Agama
Lebih lanjut menurut Proff Matt Sanders dalam artikel berjudul “Berapa Durasi Anak Menonton Televisi Sehari?” , jika anak-anak menghabiskan waktu untuk menonton televisi, mereka akan kehilangan kesempatan untuk belajar melalui kegiatan interaktif. Karena itu, menyelesaikan PR, bermain di luar ruangan, berolahraga, dan membaca merupakan sederet aktivitas yang perlu dilakukan anak-anak. 

bergaul untuk menambah teman

Konvensi Hak Anak menyebutkan pada pasal 31 bahwa :

1. Negara-negara Pihak mengakui hak anak untuk beristirahat dan bersantai, untuk bermain dan turut serta dalam kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak yang bersangkutan, dan untuk berpartisipasi secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni.
2. Negara-negara Pihak harus menghormati dan memajukan hak anak untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan budaya dan seni, dan harus mendorong pengaturan yang layak dan kesempatan yang sama untuk kegiatan-kegiatan budaya, seni, rekreasi dan santai.

Waktu luang untuk Olahraga


Hak anak untuk beristirahat dan bersantai lebih banyak diisi dengan aktivitas pasif yaitu menonton televisi dibandingkan dengan melatih kemampuan diri untuk berpartisipasi dalam budaya dan kesenian. Masih belum banyak sekolah dasar dan menengah yang memiliki ekstrakurikuler yang bergerak di bidang seni, budaya dan olahraga, seperti tari tradisional, musik, seri peran, pencak silat, mengkaji kitab suci agama dan sebagainya. Kegiatan bahasa seperti tambahan belajar bahasa daerah, bahasa Indonesia dan bahasa asing yang meningkatkan kemampuan literasi anak-anak.  Pemerintah harus menghormati dan memajukan hak anak untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam pemanfaatan waktu uang anak-anak di rumah maupun setelah sekolah.

Dalam Undang - Undang Perlindungan Anak No.35 Tahun 2014 Pasal 56 poin d, e, dan f, yaitu :
d. bebas berserikat dan berkumpul;
e. bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya; dan
f. memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan.

Ekstrakurikuler Marawis SMA Boedoet

Anak-anak memanfaatkan waktu luangnya untuk berkumpul dan membangun pertemanan sebaya maupun bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Dapat berkreasi menciptakan suatu karya dari permainan dan berkarya seni budaya. Anak-anak juga bebas memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatannya.
Semua ini dapat terpenuhi apabila semua pihak ikut berkontribusi secara penuh dalam memenuhi hak anak. 

Dalam hal ini pihak yang berperan penting dalam meningkatkan penggunaan waktu luang anak-anak baik di rumah maupun sekolah yaitu :
1. Pengasuh utama anak, yaitu orang tua bertanggung jawab dalam mengawasi anak-anak dalam menggunakan waktu luang. Jika anak hanya memanfaatkan hiburan berupa televisi, orangtua memiliki kewajiban dalam mengawasi tayangan yang dilihat oleh anak. Orang tua juga berkewajiban untuk memberi aturan dan lama durasi anak dalam melihat tayangan yang menjadi hiburan. Orang tua wajib mengingatkan anak untuk menyelesaikan tugas utamanya terlebih dahulu yaitu belajar, mengerjakan tugas, mengikuti les, mengaji dan membantu orangtua.
2. Pemerintah memiliki peran penting dalam pengawasan tayangan yang pantas dilihat anak-anak di televisi dan memberi edukasi. Pemerintah juga wajib menyusun peraturan pengadaan ekstrakurikuler sejak sekolah dasar yang mampu meningkatkan kemampuan seni budaya dan kemampuan fisik serta kognitif lainnya.
3. Guru dan kepala sekolah berperan dalam memantau kegiatan murid di sekolah ketika waktu luang yaitu istirahat. Menyediakan sarana berolahraga, bermain dan mengebangkan diri bagi murid sesuai minat masing-masing.
4. Lingkungan tempat anak tinggal termasuk teman, tetangga, RT, RW dan sekitarnya yang mampu memberikan pengawasan dan akses dalam meningkatkan kualitas waktu luang anak-anak. Dengan program yang dapat dibentuk dan disetujui bersama-sama sehingga pencapaian tujuan mudah terlaksana. Contohnya dengan adanya perpustakaan keliling, taman baca, taman ramah anak, pengajian pagi atau sore di masjid, lomba-lomba, belajar bersama dan sebagainya.

Semoga tulisan ini dapat dimanfaatkan, baik ilmunya ataupun pelaksanaannya. :)
Keterangan gambar diambil dari dokumentasi kegiatan siswa siswi Boedoet ekstrakurikuler Rohis SMA Negeri 1 Jakarta

PUSTAKA :

Anonim. TT. ” Berapa Durasi Ideal Anak Nonton TV Sehari?”. 14 September 2016. Diunduh

Rezkisari, Indira. 2016. “Orang Tua Jadi Penyebab Anak Banyak Menonton TV”. 14 September 2016.

[United Nations Child and Emrgency Fund] Konvensi Hak Anak

[UU] Undang-undang Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014

Arti Kembali

Aku selalu ingin berbagi
Kisah lalu ataupun masa kini
Meski kadang enggan dalam hati
Berfikir terlalu melebihi
Mungkin kamu tak menanti
Lebih lagi sudah tak peduli
Bagimu kamu tak berarti
Sungguh ironi
Bahkan pernah ku menangisi
Sekelebat cerita sunyi
Tapi dalam hidup ini
Terlalu banyak yg harus disyukuri
Untuk kembali
Dan menyapa pagi
Untuk kamu, yang harus semangat lagi

Bogor, 16 agustus 2016
20:42

Ternyata Aku Hanya Khawatir

Mah mengapa sikapku padamu berbeda, tak seperti sikapmu padaku?

Mah, demi Allah aku mencintaimu. Aku peduli terhadapmu.
Tapi, mengapa sikapku ini berbeda?
Mah, kata orang, cinta tak mengenal fisik. Tapi ketika sakit itu
mendatangimu dan mengubah fisik serta kemampuanmu, mengapa cinta itu
berubah menjadi takut? atau sebenarnya aku khawatir?
Yang aku tau, sakit itu juga mempengaruhi cara pikirmu. Semakin lama,
engkau akan mudah tersinggung, engkau menjadi kekanak2an seperti dulu,
engkau sulit merangkai kalimat dan kehilangan beberapa memori. Padahal
usiamu blm tua. Sabar ya ma, sabar.

Maafkan aku ma, anakmu yg kau jaga sejak dalam kandungan, yg
menyusahkanmu ketika dilahirkan, yg membuat malammu tetap terjaga, dan
mengubah bentuk tubuhmu karena kelahiranku.

Maafkan aku ma yg ketika kecil aku terlalu sering
menangis,memelukmu,dan menarik kedamaian hatimu agar menular padaku
dan membuatku kembali tenang.

Maafkan aku yg beranjak remaja lebih suka berlama-lama di sekolah
menghabiskan waktu dgn teman2ku dan tak mempedulikanmu.

Maafkan aku yg ketika diberi peluang meneruskan belajar dan tinggal
jauh malah lebih banyak menghabiskan waktuku disini, bukan disana
disampingmu, saat kau butuh aku.

Apa karena sekarang aku telah semakin besar dan merasa bisa hidup mandiri?

Maafkan kata-kata ku yg pernah melukaimu, maafkan atas semua lelah
yang engkau korbankan untuk hidupku, maafkan atas semua doa yg engkau
panjatkan namun tidak aku syukuri. maaf mah.
 

Maafkan atas sikapku ketika memaksamu untuk makan, tapi ternyata mulut
dan lidahmu telah terasa berbeda untuk merasakan makanan. Sebenarnya
aku hanya khawatir kau sakit atau lapar.

Maafkan aku yg melarang ketika mama lebih menyukai air jeruk kemasan
drpd air putih karena menurutku lebih sehat, namun sekali lagi. Aku yg
tidak mengerti keadaanmu. Maaf ma, maaf.

Maafkan aku yg setiap pagi dan sore tidak disana untuk menuntun dan
membantumu mandi,membersihkan badan. Maafkan aku yg tidak selalu ada
untuk memasangkan popok dan memakaikan baju. Maafkan aku yg tidak ada
saat matahari pagi dan kau menyukai berada di bawahnya tapi tak ku
penuhi.

Terkadang, aku merasa hatiku ini telah mengeras ketika jelas-jelas air
mataku menetes deras dan bibir ini berkata rindu tapi tubuh ini tak
bergerak mendatangimu.

Alih-alih dalam hati masih ada tugas yang perlu diselesaikan tanpa
berfikir bahwa sebenarnya aku tidak pernah tahu kesempatan kapan lagi
untuk menemuimu.

Lebih sering aku merasa khawatir ketika menyadari bahwa hidup tak
selamanya hidup. Bahwa terkadang esok lebih jauh drpd maut. Aku
khawatir bukan pada dirimu, tp pd diriku. Seberapa kuatnya aku ?

kau selalu meminta maaf karena merasa merepotkan dan selalu tak bisa
membantu. Tapi, memang kenyataannya aku merasakan fase ini lebih awal
drpd yg lain.
Kata dosenku, ketika kita nanti berkeluarga, kita akan mengurus orgtua
yg semakin tua dan membutuhkan bantuan selalu. Tapi nyatanya aku
merasakan itu lebih dini, pada tahap ini.


Sekali lagi ma, ternyata aku hanya khawatir. Khawatir bahwa aku tak
membagi banyak waktu untukmu, khawatir karena tak sepenuhnya ada
merawatmu, khawatir apa nanti setelah perayaan kelulusanku atau bahkan
pernikahanku, aku akan tetap ada untukmu atau memilih pergi jauh
mengikuti pilihanku.

Selebihnya aku khawatir bahwa kapanpun entah engkau ataupun aku akan
lebih dahulu berpulang dan disana saling menunggu.

Tapi tunggu, ada satu yang harus kita akui bahwa "Maa Qadarullah
Khair" bahwa semua takdir Allah adalah baik. Ketika kita percaya,
semestinya khawatir itu juga sirna.

Aku ragu, akankah kau baca tulisanku ini. Tapi yang mesti engkau tahu
ma, aku tak akan menyiakan waktuku (lagi).

 

Berawal dari Desa, Hiduplah Indonesia Raya


 Assalamualaikum, HAI !
Ini  bukan tulisan iseng aja, tapi tulisan ini untuk memenuhi tugas responsi mata kuliah  minor Sosiologi Pedesaan hehe.
Silahkan dibaca...


Sebagai mahasiswa yang pernah ditolak saat mengikuti open recruitment” kegiatan bina desa, saya jadi merasa sedikit ‘malas’ untuk mendaftar kegiatan yang berhubungan langsung dengan desa. Untuk berbuat baik, kenapa harus diseleksi, kata teman saya. Padahal saat itu kecintaan dan rasa penasaran saya tentang desa lagi besar-besarnya. Makanya untuk pemenuhan tugas ini hanya satu pengalaman yang saya miliki, yang mengantarkan terbukanya pikiran saya akan desa, yaitu kegiatan Bina Cinta Lingkungan yang diadakan wajib oleh TPB IPB semester genap kemarin. Awalnya banyak sekali mahasiswa TPB yang malas ikut karena saat itu hari sabtu atau minggu dan sebisa mungkin digunakan untuk mengerjakan tugas atau istirahat tetapi kata “wajib” mengantarkan kami pada desa.
Desa Purwasari

Saat itu saya dan teman kelas S02 mengunjungi Desa Purwasari yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus IPB Dramaga. Kira-kira satu jam perjalanan kami menempuhnya menggunakan angkutanot yang telah disewakan kampus. Jalan yang kami tempuh beliku, berbatu, dan hanya ada satu lajur untuk angkot, jadi jika ada kendaraan yang lewat berlawanan arah, kendaraan yang kami tumpangi harus bergantian dengan kendaraan lain  yang menyebabkan macet, apalagi jalan yang dilalui menanjak dan menurun dengan kondisi kendaraan angkutan kota yang ami tumpangi penuh terisi oleh dua belas orang termasuk satu supir dan kondekturnya.
Selama perjalanan beberapa teman yang satu angkot dengan saya ada yang tidur karena lamanya perjalanan, tapi banyak dari kami lebih suka menikmati apa yang disajikan jalan. Bagaimana tidak, kanan kami jurang dan kiri kami sawah belum lagi pemandangan jauh didepan adalah birunya gunung, entah gunung apa namanya. Singkat cerita kami sampai di tujuan kami, Desa Purwasari. Begitu turun dari angkot yang saya lihat adalah banyaknya bangku yang sudah terjajar rapi dan beberapa pemimpin desa siap menyambut kami. Kurang lebih jumlah kami, yang mngunjungi  120 orang dan kami dipersilahkan duduk. Ya kami duduk dikusi yang dijajarkan sepanjang jalan dan sekitar puluhan kursi dijejerkan di tempat yang ternyata tempat penampungan sampah dan gerobak-gerobak sampah, pantas saja selama saya duduk, indra penciuman saya mencium bau kurang sedap. Sambutan singkat pimpinan desa dan ucapan selamat datang bagi kami menjadi pembuka.
Tujuan kami ke desa tersebut adalah melihat kondisi desa dan membantu aktivitas warga desa dalam waktu setengah hari. Ya kurang lebih kami disana sekitar delapan jam. Kelompok saya ternyata ditugaskan untuk mmbantu seorang bapak yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di desa tersebut. Okelah kami masing-masing memegang satu karung kosong. Bapak tersebut mengajak kami kerumah warga yang paling dekat dari tempat kami berdiri dan mengangkut sampah dari rumah tersebut. Tidak seperti yang saya bayangkan ternyata setiap kami memenuhi karung kami dengan sampah, kami angkut karung tersebut ke tempat kami berdiri di awal. Jadi pengangkutan sampah tidak dilakukan dengan bantuan gerobak sampah apalagi mobil kecil petugas kebersihan yang saya tahu seperti di tempat saya tinggal.
Saya jadi membayangkan beratnya pekerjaan bapak petugas kebersihan. Belum lagi jalan yang mendaki dan menurun dari rumah satu warga ke rumah warga yang lain. Beberapa keluhan yang saya dengar dari bapak petugas kebersihan yaitu :
1.      Kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungannya sendiri. Masyarakat masih banyak yang belum sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan, masih banyak yang buang sampah sembarangan khususnya di beberapa RT sehingga membuat bapak dua kali kerja, mengangkut sampah dan menyapu tempat yang terdapat sampah itu.
2.      Keluhan lain adalah sistem pembayaran yang didapatkan bapak petugas kebersihan. Jadi sebelumnya tidak ada petugas kebersihan yang resmi diangkat oleh pemimpin desa atau Kepala Desa. Kurang lebih baru tiga bulan ini bapak bekerja sebagai petugas kebersihan, masalah pembayaran atau gaji ternyata merupakan uang patungan warga dan bukan dari pemerintah desa. Masalahnya pembayaran yang seringkali terlambat bahkan petugas keamanan yang bertugas di Purwasari sudah tiga bulan tidak mendapat pembayaran akan kinerjanya.
3.      Keluhan terakhir akan kurangnya personil. Misalnya di petugas kebersihan hanya ada satu orang yang bekerja di satu desa, jelas memberatkan karena dilihat dari jumlah sampah yang terkumpul tiap hari dan kurangnya prasarana kebersihan yang memadai.
Ketika semua sampah terkumpul, kami membawa ke tempat pengumpulan sampah. Ternyata disana ada gerobak sampah yang merupakan sumbangan dari IPB atau bantuan dari Pemerintah Daerah Jawa Barat kalau saya tidak salah, tetapi gerobak itu tidak bisa digunakan untuk mengankut sampah ke tempat warga dikarenakan akses yang tidak memadai. Jalan antar rumah warga kecil dan sulit dilewati gerobak sampah jadi prasarana yang aa tidak digunakan maksimal.
Saya juga mengobrol dengan warga mengenai pekerjaan penduduk, pendidikan anak-anak, kondisi perekonomian penduduk, dan lingkungan. Saya mendapatkan info bahwa penduduk setempat bekerja bisa dilihat dari umurnya. Misalnya orang tua yang umurnya diatas empat puluh tahun mayoritas bekerja sebagi petani, umur dibawahnya yaitu anak-anak dari para petani tersebut bekeja di pabrik atau penjaga toko yang ada disekitar desa. Mengenai pendidikan, penduduk desa yang bekerja sbagai petani banyakyang tidak lulus SD, asalkan bisa membaca dan menulis katanya. Anak-anak mereka kebanyakan lulus SMP dan SMK. Ketika saya tanyakan apakah pendapat bapak kalo anak bapak ingin lanjut belajar sampai perguruan tinggi. Jawaban bapak itu “yaaah neng, uangnya darimana? Kuliah mahal, mau kuliah mesti pinter, saingannya banyak”. Saat itu saya menjawab “saya kuliah gratis pak, bahkan mendapat uang saku tiap semesternya dari pemerintah karena kondisi ekonomi keluarga saya kurang mampu, di kampus saya, IPB banyak mahasiswa beasiswanya pak. Tenang aja, asal rajin belajar sama semangat anak bapaknya. Bapak juga harus ngedukung anak bapak”. “ooh bisa seperti itu ya neng? Waaahh nanti saya bilang deh ke anak saya biar rajin belajar. Saya mah sebagai orangtua hanya bisa berdoa dan mendukung”.
Membahas kondisi perekonomian penduduk, ternyata penduduk desa Purwasari yang bekerja sebagai petani dan pembudidaya ikan adalah hanya sebagai pekerja bukan pemilik sawah ataupun kolam ikan tersebut. Info yang saya dapat, pemilik sawah dan kolam adalah “orang Jakarta” ternyata kolam dan sawah itu awalnya punya warga tetapi lama-kelamaan karena mungkin harga tanah yang semakin mahal jadilah warga menjual tanah tersebut ke orang yang sering berkunjung ke Desa Purwasari itu. Mereka mengetahui bahwa pemilik dari sawah, kolam dan sumber-sumbr mata pencaharian yang berhubungan dengan alam dimiliki oleh orang berada tersebut. Mereka hanya menggarap dan mendapat upah beberapa persen dari pendapatan penjualan hasil garapan mereka.
Kondisi lingkungan yang saya amati dari desa ini adalah adanya sumber air bersih yang terpusat di satu tempat. Air bersih ini digunakan untuk seluruh keperluan warga seperti memasak, minum, mencuci, dan mandi. Ada seorang ibu yang sedang mencuci ditempat itu saya ajak mengobrol. Ternyata belum ada pipa yang mengalirkan airi ini ke setiap rumah warga, jadi warga mau tidak mau harus mengambil air dari pusat ini. Air yang terpusat di tempat itu disedot menggunakan mesin pompa yang penggunaannya dan perawatannya bersama. Setelah ibu tadi selesai mencuci, kelompok kami membantu membawa ember berisi cucian bersih yang telah dicuci. Jumlahnya ada tiga ember penuh dan itu dibawa ibunya sendiri setiap mncuci. Jarak pusat air tempat mencuci tadi kurang lebih dua ratus meter dengan arah menanjak ke rumah ibu tadi. Bisa dibayangkan bagaimana ibu-ibu disana mengguakan tenaga yang cukup besar.
Kondisi lingkungan yang saya amati lagi adalah ada satu kolam di sekitar rumah Pak RW yang diatasnya ada kandang ayam. Saya teringat materi kuliah Pengantar Ilmu Pertanian yang dapat mengkolaborasikan fungsi antara aspek satu dan yang lainnya. Ternyata di desa tersebut ilmu itu sudah diterapkan. Satu lagi adanya bangunan dari bambu yang menurut warga adalah tempat yang dibuat oleh mahasiswa IPB, saya lupa namanya, tapi tempat itu sebagai tempat pengolahan sampah yang terkumpul di desa tersebut. Disana juga ada pelatihan dari mahasiwa tentang pengolahan limbah organik menjadi pupuk dan non-organik menjadi bahan yang dapat digunakan selanjutnya sehingga mengurangi volume sampah yang dibuang percuma.

Kami dan anak-anak Desa Purwasari yang sama gemesinnya

Oh yaaa, selama kami membantu bapak petugas kebersihan sampai kami selesai mengerjakan tugas kami disana, kami diikuti oleh beberapa anak-anak kecil berumur empat sampai tujuh tahun. Ada sekitar enam orang anak yang ikut terus dengan kami. Mereka senang katanya ada kunjungan seperti ini. Mereka ikut berfoto, mereka tidak sungkan untuk meminta gendong ketika lelah, keceriaan, senyum, dan semangat mereka menggambarkan potensi daerah mereka.
Sebelum kami berkumpul dengan semua anggota kelas kami, anak-anak tersebut menunjukkan kami bahwa ada sungai didekat kami sekarang. Ajakan itu langsung kami sambut baik. Dekat ternyata jaraknya, hanya sekitar seratus meter dari pusat penampungan air tadi. Sungai tersebut banyak terdapat batuan besar dan arus yang deras. Seketika anak-anak itu melepas alas kaki dan langsung berpindah dari satu batu ke batu lain. Saya yang melihat hanya bisa teriak melarang, khawatir anak-anak itu terjatuh karena licinnya batu, tetapi teman saya yang masa kecilnya seperti itu mengingatkan kalau mereka sudah biasa, jadi tenang saja.
Kami terpaksa menyudahi main basah-basahan di sungai mengingat waktu yang terbatas dari rundown kegiatan. Anak-anak itu meminta gendong sampai rumah dan yaaa rasanya lelah ditambah berat pundak ini menggendong mereka tapi kami menikmati. Kami antar mereka sampai rumah dan kami kembali berkumpul dengan sluruh kelompok.
Disana sudah tersedia makanan berupa nasi, ikan, lalap, tempe tahu, sayur yang sengaja dibuatkan oleh warga untuk kami mahasiswa yang datang. Ikan yang diambil dari kolam dan langsung dimasak jelas kesegarannya. Kami menikmati makanan bersama warga dan kepala desa, serta petugas kebersihan dan keamanan.
Secara keseluruhan yang saya dapatkan dari desa Purwasari adalah keramahan dan sopan santun penduduknya. Pemandangan alam yang ditampilkan juga luar biasa mengindahkan mata. Selarasnya lingkungan sosial dan alam yang tersaji dari Desa Purwasari ini mengingatkan saya bahwa potensi besar ini dapat dikembangkan. Pengembangan utama yang dapat dilakukan adalah dari segi pendidikan. Jika di Jakarta tempat asal saya, sekolah dasar sampai menengah atas sudah dibebaskan biaya, seharusnya desa juga bisa mendapat hak seperti itu juga. Saya lihat disana ada satu bangunan yang ernyata adalah skolah Pendidikan Anak Usia Dini yang diasuh langsung oleh Departemen IKK, IPB. Sekolah PAUD tersebut juga menggunakan tenaga dari warga desa yang memiliki potensi dalam mengajar dan mendidik. Setidaknya satu gerakan sudah dimulai.
Akses ke sekolah terdekat yang saya dapatkan adalah kurang lebih tiga kilometer, anak-anak harus jalan atau menggunakan angkot setiap bersekolah. Nah untuk memudahkan sebaiknya dilakukan perbaikan jalan dan pembuatan jalan alternatif berupa jembatan yang menghubungkan dua desa yang dipisahkan oleh sungai karena lokasi sekolah yang sudah ada berada di desa sebelah yang harus ditempuh dengan memutar jalan jauh jika tidak adanya jembatan.
Dari segi perekonomian penduduk, menurut saya sawah dan kolam yang dimiliki “orang Jakarta” tersebut harus jelas pembagian hasilnya. Mereka bisa mendapatkan bibit terbaik untuk ikan dan padi dari pemerintah seharusnya, bukan beli dari pemiliktersebutyang jatuhnya memberatkan penduduk. Koperasi desa, program-program pemerintah daerah yang berbasis kewirausahaan wajib dikembangkan di desa, agar terciptanya masyarakat desa yang berdaya. Pelatihan beternak, berkebun, mengolah sumberdaya, pengemasan, pemasaran juga harus diperhatikan.
Jika pelatihan dan pengontrolan kegiatan penduduk telah berjalan dengan baik, saya yakin kondisi lingkungan yang berkelanjutan dapat mengikuti selaras kemajuan desa tersebut. Jika masyarakat sudah mandiri dalam menghidupi dirinya, desa sudah berdaya, pemerintahan teratur melakukan kewajiban dan haknya, hasilnya Indonesia yang sedang berkembang ini bisa menjadi negara maju.

Hidup Pertanian Indonesia.
Hidup Rakyat Indonesia.
Hidup Indonesia.