Untaian Kiky

Pages

Waktu Luang Anak, Cara Memanfaatkannya, dan Pihak yang Berperan

Waktu luang untuk Eksplorasi Alam
Setiap manusia memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam. Manusia membagi waktu menjadi waktu kerja untuk mendapatkan sumberdaya lain, waktu domestik untuk mendapatkan kepuasan tinggal di dalam rumah, dan yang terakhir waku luang untuk beristirahat dan mengumpulkan energi untuk aktivitas selanjutnya. Begitupun anak-anak yang memiliki waktu produktif untuk bersekolah, waktu domestik untuk membantu kegiatan di rumah, dan menghabiskan banyak waktu luang.
Berdasarkan definisi teori waktu luang yaitu waktu luang sebagai aktivitas yaitu waktu yang berisikan berbagai macam kegiatan baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan serta menggunakan keterampilan secara objektif untuk meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat setelah melepaskan diri dari segala pekerjaan rutinnya, keluarga dan lingkungan sosial dan waktu luang sebagai relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri.

Waktu luang untuk Olahraga
Diungkapkan oleh Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yang melihat arti istilah waktu luang dari 3 dimensi, yaitu:
a. Dilihat dari dimensi waktu, waktu luang dilihat sebagai waktu yang tidak digunakan untuk bekerja mencari nafkah, melaksanakan kewajiban, dan mempertahankan hidup.
b. Dari segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat diisi dengan kegiatan pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka hati.
c. Dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang mengalami gangguan emosi, sebagai selingan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu. 
Waktu luang anak-anak yang tidak digunakan untuk kegiatan menambah pengetahuan, olahraga dan meningkatkan kemampuan diri adalah dengan kegiatan pasif. Proff Matt Sanders, seorang direktur Parenting and Family Support Centre di Queensland University mengatakan salah satu kegiatan pasif dalam mengisi waktu luang yaitu menonton televisi. 
Dalam artikel gaya hidup di laman republika.co.id, dari hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics yang melibatkan 1.550 orang tua yang memiliki anak berusia 17 tahun atau kurang membuktikan bahwa kebiasaan anak-anak menonton televisi sangat dipengaruhi orangtuanya.  
Ekskul Nasyid


Peneliti secara khusus bertanya kepada para remaja tentang berapa banyak waktu yang mereka habiskan menonton televisi.  Ternyata rata-rata, orang tua menghabiskan sekitar empat jam sehari di depan layar televisi. Dan mereka yang menonton TV lebih dari empat jam, anak-anak mereka juga menonton untuk waktu yang sama. Selain itu peneliti juga menyimpulkan bahwa satu jam yang orangtua habiskan untuk menonton TV menambah setengah jam waktu anak menonton TV.
Mengikuti Kajian Agama
Lebih lanjut menurut Proff Matt Sanders dalam artikel berjudul “Berapa Durasi Anak Menonton Televisi Sehari?” , jika anak-anak menghabiskan waktu untuk menonton televisi, mereka akan kehilangan kesempatan untuk belajar melalui kegiatan interaktif. Karena itu, menyelesaikan PR, bermain di luar ruangan, berolahraga, dan membaca merupakan sederet aktivitas yang perlu dilakukan anak-anak. 

bergaul untuk menambah teman

Konvensi Hak Anak menyebutkan pada pasal 31 bahwa :

1. Negara-negara Pihak mengakui hak anak untuk beristirahat dan bersantai, untuk bermain dan turut serta dalam kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak yang bersangkutan, dan untuk berpartisipasi secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni.
2. Negara-negara Pihak harus menghormati dan memajukan hak anak untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan budaya dan seni, dan harus mendorong pengaturan yang layak dan kesempatan yang sama untuk kegiatan-kegiatan budaya, seni, rekreasi dan santai.

Waktu luang untuk Olahraga


Hak anak untuk beristirahat dan bersantai lebih banyak diisi dengan aktivitas pasif yaitu menonton televisi dibandingkan dengan melatih kemampuan diri untuk berpartisipasi dalam budaya dan kesenian. Masih belum banyak sekolah dasar dan menengah yang memiliki ekstrakurikuler yang bergerak di bidang seni, budaya dan olahraga, seperti tari tradisional, musik, seri peran, pencak silat, mengkaji kitab suci agama dan sebagainya. Kegiatan bahasa seperti tambahan belajar bahasa daerah, bahasa Indonesia dan bahasa asing yang meningkatkan kemampuan literasi anak-anak.  Pemerintah harus menghormati dan memajukan hak anak untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam pemanfaatan waktu uang anak-anak di rumah maupun setelah sekolah.

Dalam Undang - Undang Perlindungan Anak No.35 Tahun 2014 Pasal 56 poin d, e, dan f, yaitu :
d. bebas berserikat dan berkumpul;
e. bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya; dan
f. memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan.

Ekstrakurikuler Marawis SMA Boedoet

Anak-anak memanfaatkan waktu luangnya untuk berkumpul dan membangun pertemanan sebaya maupun bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Dapat berkreasi menciptakan suatu karya dari permainan dan berkarya seni budaya. Anak-anak juga bebas memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatannya.
Semua ini dapat terpenuhi apabila semua pihak ikut berkontribusi secara penuh dalam memenuhi hak anak. 

Dalam hal ini pihak yang berperan penting dalam meningkatkan penggunaan waktu luang anak-anak baik di rumah maupun sekolah yaitu :
1. Pengasuh utama anak, yaitu orang tua bertanggung jawab dalam mengawasi anak-anak dalam menggunakan waktu luang. Jika anak hanya memanfaatkan hiburan berupa televisi, orangtua memiliki kewajiban dalam mengawasi tayangan yang dilihat oleh anak. Orang tua juga berkewajiban untuk memberi aturan dan lama durasi anak dalam melihat tayangan yang menjadi hiburan. Orang tua wajib mengingatkan anak untuk menyelesaikan tugas utamanya terlebih dahulu yaitu belajar, mengerjakan tugas, mengikuti les, mengaji dan membantu orangtua.
2. Pemerintah memiliki peran penting dalam pengawasan tayangan yang pantas dilihat anak-anak di televisi dan memberi edukasi. Pemerintah juga wajib menyusun peraturan pengadaan ekstrakurikuler sejak sekolah dasar yang mampu meningkatkan kemampuan seni budaya dan kemampuan fisik serta kognitif lainnya.
3. Guru dan kepala sekolah berperan dalam memantau kegiatan murid di sekolah ketika waktu luang yaitu istirahat. Menyediakan sarana berolahraga, bermain dan mengebangkan diri bagi murid sesuai minat masing-masing.
4. Lingkungan tempat anak tinggal termasuk teman, tetangga, RT, RW dan sekitarnya yang mampu memberikan pengawasan dan akses dalam meningkatkan kualitas waktu luang anak-anak. Dengan program yang dapat dibentuk dan disetujui bersama-sama sehingga pencapaian tujuan mudah terlaksana. Contohnya dengan adanya perpustakaan keliling, taman baca, taman ramah anak, pengajian pagi atau sore di masjid, lomba-lomba, belajar bersama dan sebagainya.

Semoga tulisan ini dapat dimanfaatkan, baik ilmunya ataupun pelaksanaannya. :)
Keterangan gambar diambil dari dokumentasi kegiatan siswa siswi Boedoet ekstrakurikuler Rohis SMA Negeri 1 Jakarta

PUSTAKA :

Anonim. TT. ” Berapa Durasi Ideal Anak Nonton TV Sehari?”. 14 September 2016. Diunduh

Rezkisari, Indira. 2016. “Orang Tua Jadi Penyebab Anak Banyak Menonton TV”. 14 September 2016.

[United Nations Child and Emrgency Fund] Konvensi Hak Anak

[UU] Undang-undang Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014

Teater Giga, Gambaran Masyarakat Indonesia dan Inspirasi di Dalamnya


 

GKKI


 Juli lalu, aku menghadiri acara dari Penggiat Keluarga Indonesia atau GIGA dalam acara Gerakan Kebaikan Keluarga Indonesia. Nah tapi sebagai penampil, bukan tamu. Hehehe
Tampil sebagai bagian dari teater ini menyisakan pengalaman luar biasa. Nah kita bahas satu-satu yaa.

Sebulan sebelumnya, waktu itu selesai jam mata kuliah Perkembangan Keluarga, Prof Euis Sunarti tanya “ada yang bisa bantu saya untuk ikut tampil di acara Giga? Untuk menjadi pemain teater, musik, dan lainnya.” Waaah saya tertarik dan langsung maju ke depan bareng Dika. Ceritanya waktu itu Dika yang jadi koordinator teater. Tapi akhirnya yang memback-up kami adalah UKM Lingkungan Seni Sunda Gentra Kaheman. Yeay UKM ku.
Para pemain yang dari mahasiswi dept IKK 51 aku, Dini, Fathonah, Dwi, dan Suci. Lainnya adalah dari Gentra Kaheman, dan anak-anak sekitar kampus serta dari Sanggar Barudak Bageur (SBB).
Latihan dilakukan hampir tiap hari, dimana saat itu lagi puasa ramadhan dan ujian akhir semester. Kebayang gak gimana perjuangannya? Hehe biasa aja sih.
Reza, Dwi, Delon, Kiky sehabis latihan.
Memotong liburan panjang semester genap untuk istirahat saja sudah biasa. Tapi mengikuti banyak kegiatan bermanfaat baru luar biasa.
Dari pembagian peran, aku berperan sebagai seorang ibu yang punya dua anak (yaa seperti program KB lah, 2 anak cukup). Nah ternyata disamping harus hafal naskah dan blocking, kita para pemeran juga jadi penyanyi hahaha. Lagu yang ikut kita nyanyikan yaitu lagu Keluarga Cemara. Tau gak? Generasi 90n pasti tau. Gini nih sepenggal liriknya




Gazebo berantakan yang jadi latar teater
Harta yang paling berharga adalah keluarga
Mutiara paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Selamat pagi  emak
Selamat pagi  abah
Mentari hari ini berseri indah
Terima kasih emak
Terima kasih abah
Untuk tampil berbakti bagi kami
                             Putra putri yang siap berbakti

Indah ya liriknya, menggambarkan keluarga sederhana yang harmonis. Nah drama yang kita tampilkan juga gak kalah harmonis. Berlatar sebuah lahan kosong di suatu perkmpungan. Lahan tersebut kotor karena menjadi tempat pembuangan sampah warga dan terbiasa menjadi tempat judi. Bahkan pedagang yang jualan disana juga tak laku karena tempatnya tidak layak.
diatas panggung acara GKKI
Suatu hari, ada empat orang pemuda yang baru saja lulus kuliah dan mereka kembali ke desanya untuk mengabdi. Mereka berhenti dan terpana melihat fenomena kampung mereka. Lingkungan kotor, tak terawat, ibu-ibu memarahi anaknya, banyak pemain judi. Aah membuat resah deh pokoknya. Terbersit suatu ide untuk mengubah kampungnya dari hal yang paling kecil dan yang bisa diwujudkan. Hmm bukan sekedar wacana gitu deh. Dari obrolan panjang mereka menemukan ide untuk mengubah lahan kosong tadi menjadi sebuah taman bernama “Taman Keluarga Kita”.
                Di “Taman Keluarga Kita” ini akan dibuat gazebo untuk sarana warga berkomunikasi, membangun pertetanggan, didalamnya dilengkapi lemari berisi buku-buku agar anak-anak bisa membaca dan belajar juga. Di bawah gazebo ditaruh sebuah kotak yang dinamakan “Kotak Peduli dan Berbagi” jadi warga dapat menyimpan barang berguna yang sudah tidak dipakai dan warga lain yang membutuhkan boleh mengambilnya. Nah disana juga akan banyak tanaman kecil dan pohon besar untuk memperindah pandangan. Selain itu juga akan dibuat jalur refleksi agar warga juga bisa berolahraga disana. Oh iya, ada juga beberapa bangku taman. Lengkap deeh.

Sebenarnya jalan cerita dari drama ini menggmbarkan kehidupan sehari-hari masyarakat di Indonesia. Dimana di zaman modern seperti ini, masyarakat menjadi lebih individualis dan kurang dekat dengan lingkungan sekitar. Maka dari itu, pengadaan taman d setiap lingkungan minimal Rukun Warga penting juga.
Dari sini terbuka gambaran bahwa untuk mendekatkan masyarakat sekitar, membangun pertetanggaan, membina hubungan baik antar warga perlu adanya faslitas yang dibutuhkan warga, baik dari kalangan anak hingga lansia.

Lanjut yuuuk.
Dari seringnya kami latihan bersama setiap hari, munculah rasa kekeluargaan kami. Mengenal antar angkatan, pelatih dan pemain, prof Euis dan penapil. Semuanya terlibat. Kalo kata Prof Euis “semua merasa memiliki acara ini” ya seperti itulah.
Jika dalam sebuah acara biasanya yang kita dapat apasih menurut kamu? Menambah teman, menambah jaringan, menambah pengalaman, menambah cerita. Oke baik, selain itu menurutku yang terpenting adalah kontribusi diri kita dalam suatu acara. Bagaimana kita menentukan prioritas. Bagaimana kita membagi waktu pribadi, keluarga, acara, organisasi, teman, dan sebagainya. Seperti itu.
Dan yang paling penting adalah mengaitkan semua aktivitasmu
tergantung bagaimana prinsip hidupmu.
Kalau aku, “dimana pun aku berada, disitulah diriku bermanfaat” naah dalam kegiatan ini, aku merasa diriku dapat bermanfaat bagi sekitarku, baik saat latihan, saat  persiapan, acara pun setelahnya.

Berperan sebagai seorang Ibu, menjadikan aku mengenal banyak anak-anak pemain teater ini. Mengenal namanya, wajahnya, lingkungan rumahnya, orangtuanya, sikapnya dan keceriaannya.
Sebagian besar pemain anak-anak bertempat tinggal di belakang kampus, tepatnya di Babakan Lio, sisanya empat orang dari SBB dan seorang lagi bernama Ninis yang berperan sebagai Naura. Ninis lebih tepatnya sebagai penyanyi dalam teater ini.
Berbicara mengenai perilaku anak-anak sangat bervariasi. Misalnya, ketika ada properti yang semestinya digunakan dalam teater seperti angklung, sapu, dagangan, keranjang, dan lainnya. Oleh mereka dibuat mainan. Yah namanya juga anak-anak. Tapi dari anak-anak tersebut, ada juga yang mengerti dan paham ketika diberitahu kalau itu adalah properti dan jangan dimainin yaa. Karena kalau rusak sulit lagi mencarina. Dan mereka menurut. Ada lagi yang ketika dibilang seperti itu malah mengambek, nangis, marah. Yah mau gimana akhirnya diberikan. Anak-anak tergadang memang sulit dimengerti, ketika yang satu aktif bergerak kesana kemari, minta di gendong padahal perempuan sudah kelas lima dan yang lain duduk rapi melihat jalannya latihan. Ada anak-anak yang ketika ditawari makanan ringan bermecin (sebut saja ciki-ciki) tidak mau dan lebih memilih kue, dan ada juga yang dengan semangat berebut menghabiskan ciki-ciki itu.
Dari sini bisa kita lihat perbedaannya bahwa perilaku dan sikap anak tergantung dari pengasuhan orangtua, lingkungan rumah, teman bermain, status sosial masyarakat lingkungan rumahnya, dan sebagainya.
Dan pelajaran bagiku, ketika nanti bertanggung jawab dalam membimbing anak, aku harus melakukan hal terbaik, aku akan terus belajar tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sahabat dekat bagi anak-anakku.
Agar aku tahu apa yang mereka tahu, mau, dan bisa diperbuat. Agar aku bisa mendorongnya dalam kebaikan. Agar aku tau mana yang sedang trend pada masanya dan tidak melarangnya  selagi dalam aturan yang berlaku.

Ada satu lagi yang dapat aku teladani dari sosok Prof. Euis. Dimana dalam pelaksanaan kegiatan ini, ia sebagai ketua pelaksana memantau langsung setiap bagian. Dari teater, musik, vokal, slide yang ditampilkan, undangan, ruangan, undangan, keseluruhannya. Bagaimana ia selalu melakukan dengan sungguh-sungguh dan mendetail.
Dan yang pasti, ketika kita telah melakukan rencana baik kita dengan sungguh-sungguh, maka tunggulah pertolongan Allah di dalamnya.

Menurutku cukup tulisan kali ini, dan semoga bermanfaat serta menginspirasi : )


Bakpau Mini


adonan Bakpau siap di kukus

Coba2 resep baru dgn bahan yg mudah di dapat hehe
Bahan :
250 gr terigu
6 sdm gula putih
2 sdm mentega (mestinya pake yg putih tapi aku pake yg kuning hehe abis gaada)
1/2 sdt fermipan
1/2 sdt baking powder
Sejumput garam
Air hangat ( jgn panas yaa kasian adonannya)
.
Bahan isi:
Coklat batang (parut atau potong)
bakpau yang sudah jadi

Tapi aku buat 2 isian, coklat dan sosis ayam.

Isian ini bebas bisa dgn selai keju daging, dll. Tp sesuaikan.

Kalo adonannya manis berarti isiannya yg manis jg. Gitulaah pokoknya.
.
Cara memasak:
1. Aduk 3 sendok air hangat dengan fermipan, sampai muncul buih
2. Lalu Campur dengan 3 sendok tepung terigu. Aduk rata dgn tangan (sbg adonan basah)
3. Buat adonan di wadah lain campur tepung terigu, baking powder, gula, garam. Sbg adonan kering.
4. Masukan adonan kering ke adonan basah sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan tangan, dan tambahkan air secukupnya.
5. Tambahkan mentega. Aduk sampai kalis.
6. Tutup rapat adonan krg lebih 1 jam dgn plastik / kain.
coklaaaat

7. Buat ukuran sesuai keinginan dan isi dgn coklat.

Kasih penanda diatasnya. Coklat u/ rasa coklat. Letakkan di paper cup
(Adonan ini jdnya 18 bakpau, mini mini gitu)
Tutup lagi adonan dengan plastik krg lebih 30 menit
8. Sambil menunggu Panaskan air dan kukusan. Sampai mendidih.

9. Lalu kukus krg lebih 20 menit. Dgn api kecil.

Tiati pas masukin ke kukusannya ya. Panass.
10. Angkat dan hidangkan.

Pergi Cari dan Temukan

Pantai Batu Karas Pangandaran, April 2016

Datang dan pergi layaknya pengembara
sebentar ataupun lama
tak mengapa
seperti gemintang dengan cahayanya
seperti fajar dengan silaunya
dan seperti senja dengan keindahannya
yang hanya sekejap
menoreh cita
kan kau jelajahi
kan kau cari

kau kan temukan
entah setitik air
atau segenggam pasir
atau bisa jadi setangkai bunga
pergi, cari, dan temukan

Taman Ade Irma Suryani, Bogor, Agustus 2016
Tugu Ciawi, Agustus 2016

Arti Kembali

Aku selalu ingin berbagi
Kisah lalu ataupun masa kini
Meski kadang enggan dalam hati
Berfikir terlalu melebihi
Mungkin kamu tak menanti
Lebih lagi sudah tak peduli
Bagimu kamu tak berarti
Sungguh ironi
Bahkan pernah ku menangisi
Sekelebat cerita sunyi
Tapi dalam hidup ini
Terlalu banyak yg harus disyukuri
Untuk kembali
Dan menyapa pagi
Untuk kamu, yang harus semangat lagi

Bogor, 16 agustus 2016
20:42

Ternyata Aku Hanya Khawatir

Mah mengapa sikapku padamu berbeda, tak seperti sikapmu padaku?

Mah, demi Allah aku mencintaimu. Aku peduli terhadapmu.
Tapi, mengapa sikapku ini berbeda?
Mah, kata orang, cinta tak mengenal fisik. Tapi ketika sakit itu
mendatangimu dan mengubah fisik serta kemampuanmu, mengapa cinta itu
berubah menjadi takut? atau sebenarnya aku khawatir?
Yang aku tau, sakit itu juga mempengaruhi cara pikirmu. Semakin lama,
engkau akan mudah tersinggung, engkau menjadi kekanak2an seperti dulu,
engkau sulit merangkai kalimat dan kehilangan beberapa memori. Padahal
usiamu blm tua. Sabar ya ma, sabar.

Maafkan aku ma, anakmu yg kau jaga sejak dalam kandungan, yg
menyusahkanmu ketika dilahirkan, yg membuat malammu tetap terjaga, dan
mengubah bentuk tubuhmu karena kelahiranku.

Maafkan aku ma yg ketika kecil aku terlalu sering
menangis,memelukmu,dan menarik kedamaian hatimu agar menular padaku
dan membuatku kembali tenang.

Maafkan aku yg beranjak remaja lebih suka berlama-lama di sekolah
menghabiskan waktu dgn teman2ku dan tak mempedulikanmu.

Maafkan aku yg ketika diberi peluang meneruskan belajar dan tinggal
jauh malah lebih banyak menghabiskan waktuku disini, bukan disana
disampingmu, saat kau butuh aku.

Apa karena sekarang aku telah semakin besar dan merasa bisa hidup mandiri?

Maafkan kata-kata ku yg pernah melukaimu, maafkan atas semua lelah
yang engkau korbankan untuk hidupku, maafkan atas semua doa yg engkau
panjatkan namun tidak aku syukuri. maaf mah.
 

Maafkan atas sikapku ketika memaksamu untuk makan, tapi ternyata mulut
dan lidahmu telah terasa berbeda untuk merasakan makanan. Sebenarnya
aku hanya khawatir kau sakit atau lapar.

Maafkan aku yg melarang ketika mama lebih menyukai air jeruk kemasan
drpd air putih karena menurutku lebih sehat, namun sekali lagi. Aku yg
tidak mengerti keadaanmu. Maaf ma, maaf.

Maafkan aku yg setiap pagi dan sore tidak disana untuk menuntun dan
membantumu mandi,membersihkan badan. Maafkan aku yg tidak selalu ada
untuk memasangkan popok dan memakaikan baju. Maafkan aku yg tidak ada
saat matahari pagi dan kau menyukai berada di bawahnya tapi tak ku
penuhi.

Terkadang, aku merasa hatiku ini telah mengeras ketika jelas-jelas air
mataku menetes deras dan bibir ini berkata rindu tapi tubuh ini tak
bergerak mendatangimu.

Alih-alih dalam hati masih ada tugas yang perlu diselesaikan tanpa
berfikir bahwa sebenarnya aku tidak pernah tahu kesempatan kapan lagi
untuk menemuimu.

Lebih sering aku merasa khawatir ketika menyadari bahwa hidup tak
selamanya hidup. Bahwa terkadang esok lebih jauh drpd maut. Aku
khawatir bukan pada dirimu, tp pd diriku. Seberapa kuatnya aku ?

kau selalu meminta maaf karena merasa merepotkan dan selalu tak bisa
membantu. Tapi, memang kenyataannya aku merasakan fase ini lebih awal
drpd yg lain.
Kata dosenku, ketika kita nanti berkeluarga, kita akan mengurus orgtua
yg semakin tua dan membutuhkan bantuan selalu. Tapi nyatanya aku
merasakan itu lebih dini, pada tahap ini.


Sekali lagi ma, ternyata aku hanya khawatir. Khawatir bahwa aku tak
membagi banyak waktu untukmu, khawatir karena tak sepenuhnya ada
merawatmu, khawatir apa nanti setelah perayaan kelulusanku atau bahkan
pernikahanku, aku akan tetap ada untukmu atau memilih pergi jauh
mengikuti pilihanku.

Selebihnya aku khawatir bahwa kapanpun entah engkau ataupun aku akan
lebih dahulu berpulang dan disana saling menunggu.

Tapi tunggu, ada satu yang harus kita akui bahwa "Maa Qadarullah
Khair" bahwa semua takdir Allah adalah baik. Ketika kita percaya,
semestinya khawatir itu juga sirna.

Aku ragu, akankah kau baca tulisanku ini. Tapi yang mesti engkau tahu
ma, aku tak akan menyiakan waktuku (lagi).